Mengenal Ubay bin Ka’ab, Sahabat Yang Paling Fasih Bacaan Alqurannya

Ubay bin Ka’ab al-Anshari salah seorang sahabat mulia. Seorang sahabat Anshar yang disebut qari’nya (pembaca Alqurannya) Rasulullah. Ia datang ke Mekah. Bertemu Rasulullah dan menawarkan Kota Madinah, negeri yang aman untuk hijrah beliau. Berikut ini tulisan pertama dari dua tulisan tentang sahabat yang mulia, Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu.

Mengenal Qari Rasulullah

Dia adalah Ubay bin Ka’ab bin Qays al-Khazraji al-Anshari. Ia memiliki dua kun-yah. Rasulullah memberinya kun-yah Abu al-Mundzir. Sedangkan Umar bin al-Khattab menyebutnya Abu aht-Thufail. Karena ia memiliki seorang putra yang bernama ath-Thufail.

Ubay adalah seorang laki-laki yang rambut dan janggutnya berwarna putih. Namun ia tak mengubah warna perak rambut kepalanya itu dengan inay. Atau pewarna lainnya.

Allah Ta’ala memilih Ubay termasuk salah seorang yang pertama-tama memeluk Islam. Ia bersyahadat saat Baiat Aqobah kedua. Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, ia dipersaudarakan dengan Said bin Zaid. Salah seorang dari sepuluh orang sahabat utama, al-muabsyiruna bil jannah.

Dididik Sang Nabi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pendidik yang handal. Beliau memberi teladan dengan lisan dan perbuatan. Apa yang beliau ajarkan menancap di hati. Menjadi guratan-guratan yang muncul dalam perbuatan. Ubay pun merasakan murninya pendidikan nubuwah itu.

عن أبي هريرة أن رسول الله خرج على أبي بن كعب، فقال رسول الله: “يا أُبيّ” وهو يصلي، فالتفت أبي ولم يجبه، وصلى أبيّ فخفف ثم انصرف إلى رسول الله، فقال: السلام عليك يا رسول الله. فقال رسول الله: “ما منعك يا أبي أن تجيبني إذ دعوتك؟”. فقال: يا رسول الله، إني كنت في الصلاة. قال: “أفلم تجد فيما أوحي إليَّ {اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ} [الأنفال: 24]؟” قال: بلى، ولا أعود إن شاء الله.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ubay bin Ka’ab. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Ubay.” Saat itu Ubay sedang shalat. Ia hanya menoleh, tapi tidak menjawab panggilan Nabi. Ubay melanjutkan shalatnya. Dan menyegerakannya.

Setelah itu ia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Assalamu’alaika ya Rasulullah,” sapa Ubay. Rasulullah bersabda, “Hai Ubay, apa yang menghalangi untuk menjawab panggilanku saat aku menanggilmu tadi?” “Wahai Rasulullah, tadi aku sedang shalat,” jawab Ubay.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi, “Tidakkah engkau mendapati sesuatu yang diwahyukan kepadaku ‘Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu’?” [Quran Al-Anfal: 24].

“Iya (aku telah mengetahuinya). Aku tidak akan mengulanginya lagi, insyaallah,” janji Ubay. (Sunan at-Turmudzi, Kitab Fadhail Quran, Juz: 5: 2875).

Perhatikanlah, bagaimana para sahabat dalam menanggapi perintah Rasulullah. Mereka tidak membantah. Tidak mengedepankan hasrat dan keinginan mereka. Ketika mengetahui bahwa Rasulullah menafsirkan ayat tersebut demikian. Mereka pun berazam untuk mengamalkannya. Tentu ini menjadi teladan bagi kita. Bagaimana adab ketika mendengar atau membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perintah dan larangan.

Rasulullah melarang kita dari riba, mendekati zina, dll. Beliau memerintahkan wanita muslimah untuk mengenakan hijab yang sempurna. Ingatlah pesan Allah yang disampaikan Rasulullah dalam Surat Al-Anfal ayat 24 tersebut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” [Quran Al-Anfal: 24].

Dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad dari Abu Hurairah dari Ubay bin Ka’ab bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ألا أعلمك سورة ما أنزل في التوراة ولا في الزبور ولا في الإنجيل ولا في القرآن مثلها؟” قلت: بلى. قال: “فإني أرجو أن لا تخرج من ذلك الباب حتى تعلمها”. ثم قام رسول الله فقمت معه، فأخذ بيدي فجعل يحدثني حتى بلغ قرب الباب. قال: فذكّرته فقلت: يا رسول الله، السورة التي قلت لي. قال: “فكيف تقرأ إذا قمت تصلي؟” فقرأ بفاتحة الكتاب، قال: “هي هي، وهي السبع المثاني والقرآن العظيم الذي أوتيتُه”.

“Maukah kuajarkan kepadamu suatu surat yang tidak Dia turunkan yang semisalnya dalam Taurat dan Injil. Juga tidak ada pada Alquran yang semisalnya?” Ubay menjawab, “Tentu.” “Aku berharap sebelum engkau keluar dari pintu itu, engkau telah mempelajarinya,” kata Rasulullah.

Kemudian Rasulullah berdiri. Dan aku berdiri bersamanya. Beliau mengandeng tanganku sambil mengajarkanku. Sampai beliau hampir sampai di pintu.

Aku berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, mana surat yang Anda janjikan untukku?”

Beliau berkata, “Apa yang engkau baca saat shalat?”

“Aku membaca surat Al-Fatihah,” jawabku.

“Itulah dia. Itulah dia (surat yang tidak terdapat dalam Injil dan Taurat. Bahkan dalam Alquran yang menyamai kemuliaannya). Surat itu adalah tujuh yang berulang-ulang. Dan Alquran yang agung yang diwahyukan padaku.”

Dalam riwayat yang lain, Ubay memperlambat langkahnya. Karena sangat ingin mendengar surat yang dijanjikan Rasulullah untuknya. Demikianlah semangatnya Ubay bin Ka’ab dan sahabat-sahabat lainnya memperoleh ilmu dari Rasulullah.

Kemuliaan Ubay bin Ka’ab

روى البخاري بسنده عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: قَالَ النَّبِيُّ لأُبَيٍّ: “إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ {لَمْ يَكُنْ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ}”. قَالَ: وَسَمَّانِي؟! قَالَ: “نَعَمْ”، فَبَكَى.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi berkata kepada Ka’ab, “Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membacakan kepadamu ‘Orang-orang kafir yakni ahli Kitab… [Quran Al-Bayyinah: 1]”

“Dia (Allah) menyebut namaku, wahai Rasulullah,” tanya Ubay penuh haru. “Iya,” jawab Nabi. Ubay pun menangis. (HR. al-Bukhari 4959)

فكان ممن جمعوا القرآن على عهد رسول الله؛ ففي البخاري بسنده عن قتادة قال: سألت أنس بن مالك: من جمع القرآن على عهد النبي؟ قال: أربعة كلهم من الأنصار: أبي بن كعب، ومعاذ بن جبل، وزيد بن ثابت، وأبو زيد رضي الله عنهم جميعًا.

Ubay adalah orang yang mencatat dan menyusun Alquran di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Qatadah, ia berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik, ‘Siapa yang mengumpulkan Alquran di masa Nabi?’ Anas menjawab, ‘Ada empat orang. Semuanya dari kalangan Anshar. Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid -radhiallahu ‘anhum jami’an’.” (HR. al-Bukhari, 5003).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa ia adalah orang yang paling fasih bacaan Alqurannya di umat ini. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَيٌّ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ وَأَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ

“Umatku yang paling penyayang terhadap yang lain adalah Abu Bakar. Yang paling kokoh dalam menjalankan perintah Allah adalah Umar. Yang paling jujur dan pemalu adalah Utsman. Yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal. Yang paling mengetahui ilmu fara’idh (pembagian harta warisan) adalah Zaid bin Tsaabit. Yang paling bagus bacaan Alqurannya adalah Ubay. Setiap umat mempunyai orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR. at-Turmudzi 3791).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui luasnya ilmu Ubay bin Ka’ab. Dalam Shahih Muslim terdapat sebuah hadits dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

“يا أبا المنذر، أتدري أي آية من كتاب الله معك أعظم؟” قال: قلت: الله ورسوله أعلم. قال: “يا أبا المنذر، أتدري أي آية من كتاب الله معك أعظم؟” قال: قلت: “اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ”. قال: فضرب في صدري وقال: “وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ”.

“Wahai Abu al-Mundzir, tahukah engkau satu ayat yang paling agung dalam Kitabullah yang kau hafal?” Ubay menjawab, “Allah dan Rasul-Nyalah yang lebih mengetahui.” “Wahai Abu al-Mundzir, tahukah engkau satu ayat yang paling agung dalam Kitabullah yang kau hafal?” Rasulullah ingin Ubay menjawabnya. Aku menjawab, “Allaahu laa ilaaha illaa huwa al-Hayyu al-Qayyum… (Allah Dialah yang tidak ada sesembahan selain Dia. Yang Maha Hidup dan terus-menerus mengurusi makhluknya).” Kemudian Rasulullah menderapkan tangannya di dadaku dan mengatakan, “Demi Allah, semoga dadamu dipenuhi dengan ilmu, wahai Abu Mundzir.” (HR. Muslim 810).

Banyak tokoh-tokoh sahabat yang belajar Alquran dari Ubay. Di antara mereka: Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Saib, Abdullah bin Ayyasy bin Abi Rabi’ah, Abu Abdurrahman as-Sulami -radhiallahu ‘anhu jami’an-.

Kemuliaan lainnya yang disandang sahabat Anshar ini adalah sebagai penulis wahyu. Ubay adalah orang pertama di Madinah yang menuliskan wahyu untuk Rasulullah. Kalau tidak ada Ubay, baru Rasulullah memanggil Zaid bin Tsabit. Di zaman Umar, ia diangkat menjadi hakim di Yaman.

Kedudukan Ubay bin Ka’ab

Ubay bin Ka’ab menjadi guru dari sahabat-sahabat utama dalam bidang Alquran. Di antara murid beliau adalah Abdullah bin Abbas, Abu Hurarairah, Abdullah bin Saib, Abdullah bin Iyasy bin Abi Rabiah, Abu Abdurrahman as-Sulami -radhiallahu ‘anhum jami’an-.

Selain Alquran, Ubay juga meriwayatkan beberapa hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya:

روى البخاري بسنده عن سويد بن غفلة قال: لقيت أبي بن كعب فقال: أخذت صرةً مائةَ دينار، فأتيت النبي فقال: “عرِّفْها حولاً”. فعرفتها حولاً فلم أجد من يعرفها ثم أتيته، فقال: “عرِّفْها حولاً”. فعرفتها فلم أجد ثم أتيته ثلاثًا، فقال: “احفظ وعاءها وعددها ووكاءها، فإن جاء صاحبها وإلا فاستمتع بها”. فاستمتعت فلقيته بعدُ بمكة، فقال: لا أدري ثلاثة أحوال أو حولاً واحدًا.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dengan sanadnya dari Suwaid bin Ghaflah, ia berkata, “Aku bertemu dengan Ubay bin Ka’ab. Ia mengatakan, ‘Aku menemukan sebuah kantong yang berisikan seratus Dinar. Kemudia aku menemui Nabi. Beliau bersabada, ‘Umumkanlah selama setahun’. Aku pun mengumumkannya selama setahun. Namun tidak ada yang mengakuinya. Kemudian kutemui lagi Nabi. Beliau bersabad, ‘Umumkanlah selama setahun’. Ku-umumkan setahun, namun tak juga ada yang mengakuinya. Kemudian kutemui lagi beliau untuk yang ketiga kalinya. Beliau bersabda, ‘Jaga wadah, jumlah, dan pengikatnya. Jika pemiliknya datang (berikan). Jika tidak, gunakanlah’. Aku pun menggunakannya.

Kata-Kata Bijak Ubay bib Ka’ab

Ubay bin Ka’ab memotivasi kaum muslimin untuk serius mempelajari bahasa Arab. Beliau mengatakan,

تعلموا العربية كما تعلّمون حفظ القرآن

“Pelajarilah bahasa Arab, sebagaimana kalian mempelajari menghafal Alquran.”

Ia juga mengajarkan agar kaum muslimin mengedepankan Allah dari segala hal. Di antara pesannya adalah:

ما ترك عبد شيئًا لا يتركه إلا لله إلا آتاه الله ما هو خير منه من حيث لا يحتسب، ولا تهاون به فأخذه من حيث لا ينبغي له إلا أتاه الله بما هو أشد عليه.

“Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu yang motivasinya hanya karena Allah. Pasti Allah akan menggantikan sesuatu yang lebih baik untuknya dari jalan yang tidak ia sangka. Tidaklah ia meremehkan sesuatu yang tak pantas itu, ia ambil dengan cara yang tak selayaknya, pasti Allah akan datangkan sesuatu yang lebih buruk untuknya.”

Wafat

Sejarawan berbeda pendapat kapan tahun wafatnya Ubay. Ada yang mengatakan ia wafat pada masa kekhalifahan Umar. Yaitu pada tahun 19 H. Ada juga yang mengatakan tahun 20 H. Pendapat lainnya menyatakan tahun 22 H. Pada masa khalifah utsman tahun 32 H. Pendapat terakhir ini terdapat dalam al-Mustadrak. Dan ini merupakan pendapat yang paling kuat karena Utsman memasukkannya dalam tim penyusun Alquran.

Tips Mengajak Keluarga Dan Sahabat Ke Kajian

Dear, mendakwahkan orang-orang terdekat kita memang bukanlah hal mudah. Ada yang gampang buat diajak hal baik, tapi banyak juga yang susah untuk diajak.
.
Dakwah punya cara. Kita tidak bisa memaksakan orang untuk bisa langsung berubah. Sebagaimana orang pun tidak bisa dipaksa untuk memeluk agama Islam. Seperti pada kutipan surah Al-Baqoroh Ayat 256
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat……..”
Jadi penekanan dakwah lebih kepada menunjukkan kebenaran dan kesesatan, bukan memaksa, masalah ia akan berubah atau tidak, hidayah ada di tangan Allah. Biarlah target dakwah tersebut diajak berpikir, apakah kebenaran yang ia ikuti, apakah kesia-siaan, ataukah malah jalan kesesatan. Dari situlah kemudian dia akan menentukan langkah hidupnya.
.
Saat kita ingin saudara kita ikut kajian, tunjukkan dan buktikanlah pada mereka bahwa ketika kita sering menghadiri majelis ilmu, ada perubahan cara berpikir dan perilaku. Kalau kita berhasil menunjukkan perubahan positif pada mereka, insya Allah mereka pun akan tertarik ingin juga berubah seperti kita.
Selain itu, hal yang tak kalah penting, teruslah membersamai mereka, jadilah orang terdekatnya, yang selalu mengerti, dan memahami apa yang dia suka. Saat kita dekat dengan mereka, apapun nasihat dan ajakan kita insya Allah akan lebih mudah diterima oleh mereka. Jangan pernah berdakwah dengan cara menggurui, tapi jadilah sahabat taat untuk orang-orang yang kita cintai.
.
Semoga Allah lembut kan hati kita dan saudara-saudara kita untuk terus menjemput hidayah-Nya 
#SesiQnASpesial

Tinggalkan Sahabat Jahat Kalian

Sulit untuk Taat? karena mungkin kita masih bersahabat dengan Sahabat Jahat.
.
Dear, sahabat itu cerminan diri kita. Jika teman-teman kita taat, maka diri kita pun terdorong berusaha untuk taat
ﻤُﺆْﻣِﻦُ ﻣَﺮْﺁﺓُ ﺃَﺧِﻴْﻪِ
.
“Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin.” (HR. Abu Daud)
.
Maka jika kita sudah mulai menyadari kebenaran dan ingin taat tapi masih merasa sulit untuk mengerjakan perintah Allah, artinya kita masih bersama sahabat yang keliatannya baik tapi sebenarnya ia mengajak kita kepada kemaksiatan.
.
Jadi yuk cek siapa sahabat disekeliling kita, jika masuk kategori jahat, maka tinggalkanlah. Jika mengajak kepada kebaikan dan beribadah kepada Allah, maka jangan pernah kamu lepaskan.
.
#SahabatJahat

Jika Sahabat Suka K-Pop Secara Berlebihan

Sahabat jahat memandang konser musik lebih menyenangkan dibanding pengajian.
.
Siapa yang demikian?
Satu jari menunjuk ke orang, empat jari menunjuk ke diri sendiri.
.
Faktanya ternyata diri ini juga lebih seneng denger lagu2 dibanding murottal. Lebih anteng mantengin drakor daripada video kajian. Gak heran kalo gampang banget kebujuk dan akhirnya ikut-ikutan nonton konser beginian. Apalagi kalo tiketnya geratisan. Hmm.. Jarang nolak deh. Lumayan kan nonton Park Cendol sama Bi Hun secara langsung.
.
Dear.. Kita memang tidak bisa memaksa sahabat untuk menerima apa yang kita pahami. Tapi jika kamu tau apa yang diajaknya membawa kemudharatan, sampaikanlah kepadanya. Jangan segan mengatakan bahwa ikhtilat itu gak boleh, menonton konser boyband adalah hal yang sia-sia. Jangan biarkan ia mewarnai dirimu dengan kesalahpahamannya itu. Apalagi sampai kamu yang dengan lapang meng”iya”kan ajakannya. Itu artinya kamu telah membiarkannya menjadi #SahabatJahat .
Sahabat yang mengajak kepada hal yang tidak bermanfaat.

Mengenali Sahabat Taat Dan Sahabat Sesat

Imam Hasan al-Bashri menasehatkan,
استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة
“Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” Imam Ibnul Jauzi menasehatkan kepada teman-temannya,
إن لم تجدوني في الجنة بينكم فاسألوا عني وقولوا : يا ربنا عبدك فلان كان يذكرنا بك
”Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Tuhan kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau”
.
Bagaimana, menurut temen-temen #Lovalila, tentang perkataan Imam Hasan al-Bashri dan Imam Ibnul jauzi?
.
penyataan diatas benar adanya bahwasannya sahabat yang selalu mengajak kita untuk mendekat kepada Allah, akan menjdi syafaat untuk kita nantinya saat kiamat.
.
terus kayak gimana sih sahabat jahat itu? Mereka adalah yang jelas2 sering membersamai kita dalam kelalaian dan bikin kita melupakan Allah. Yang jahat itu bukan orangnya, tapi saran dan ajakannya itu loh!
Kita melakukan hal yang sia-sia, itu ada hisabnya.  kita maksiatpun ada hisabnya, yaitu siksa neraka. Jadi fix ya, yang hanya ngajak kita asik2 di dunia, atau membiarkan kita melakukan hal yang melanggar syariat itu bisa dibilang “JAHAT”. Karena berarti dia tega ngebiarin sahabatnya disiksa di akhirat.
.
Kalo lalai gini, dimana ya tempat kita nanti? 😢
Di neraka gak mau, di surga juga rasanya gak pantes, amal pas-pasan, gaada yg manggil pula, Yaa Rabb 😭
.
ayo mulai saat ini, perbanyklah sahabat-sahabat taat. ingat mereka akan memebrikan syafaat saat kiamat nanti dan meneyelamatkan kita di akhirat.

Ciri-ciri Sahabat Yang Jahat

Lingkungan itu sangat membentuk pribadi dan akhlak kita. Nah, apa jadinya ya kalo ternyata kita berada dalam lingkungan yang tidak mendukung kita dalam ketaatan?
.
Dari ciri2 yang udah Alila sebutin diatas, coba identifikasi lingkungan dan identifikasi diri kita sendiri, termasukkah diri kita dalam #SahabatJahat ?
.
Coba tanya temanmu, mention di kolom komentar ya dear 😊😇

Menjauhi Sahabat Yang Belum Taat

Bolehkah menjauhi sahabat yang belum taat? misalnya dengan tidak membalas chatnya? takut ga bisa mengajak taat, malah menjadi ikut maksiat?
.
Assalamu’alaykum #Lovalila Bismillah Alila coba jawab pertanyaan diatas ya dear..
.
Kalau kamu terjebak dalam situasi seperti ini, emm sebenernya bukan niat menjauhi sih ya dear.. Tapi lebih menjaga pergaulan. Bukan orangnya yg kita tinggalkan, atau jauhi, tapi aktivitasnya. Aktivitas2 yg mengarah pada perbuatan yg sia2 dan tidak bermanfaat.
.
Kalaupun kamu mau menjauhi, karena kamu sadar kapasitasmu yang mudah terpengaruh atau terwarnai, Menurut Alila di perbolehkan. Karena orang yang belum mau taat (sibuk dengan dunia) cenderung mengajak kita untuk hal-hal yang sia-sia dan menyimpang.
.
Seandainya dia chat-chat kita nanyain “gimana bisa hijrah?” itu gpp bales aja, ceritakan kisah hijrahmu, semoga ia segera menjemput hidayah dr Allah. tapi kalau yang di bahas nya hal-hal yang ngga begitu penting, lebih baik dialihkan ke hal2 yg bermanfaat. Kalo justru dia maksa mmbahas hal yg tidak penting, bahkan menjurus ke ghibah, maka g usah di lanjutkan. 😁
.
Kalau belum bisa mewarnai sekitarmu dengan Islam, maka jangan sampai kau terwarnai dengan sekitar.
.
#SahabatJahat

Sahabat

SAHABAT,
.
Teman ketawa memang mudah dicari,
Tetapi teman menangis tiada siapa sudi,
Memang benar sukar mencari erti persahabatan sejati,
Hanya mereka yang benar2 bersahabat dengan hati tulus dan ikhlas dapat mencari erti persahabatan tulen
.
Sahabatku,
Sahabat datang dan pergi,
Sahabat sejati sukar dicari,
Andai ketemu denganmu sahabat sejati,
Sungguh kusyukuri,
Sahabat sejati dikau kurnian Ilahi
.
.
.

Menghinakan Orang Kafir Dengan Syair

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ  لَا يُؤْمِنُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.

[QS. Al-Baqarah: Ayat 6]

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin Syu’aib bin Al Laits; Telah menceritakan kepadaku Bapakku dari Kakekku; Telah menceritakan kepadaku Khalid bin Yazid; Telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Abu Hilal dari ‘Umarah bin Ghaziyyah dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman dari ‘Aisyah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Cacilah kaum kafir Quraisyy dengan syair, Karena yang demikian itu lebih pedih daripada bidikan panah.”

Pada suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus seseorang kepada lbnu Rawahah untuk menyampaikan pesan beliau yang berbunyi; Cacilah kaum kafir Quraisyy dengan syairmu!” Kemudian lbnu Rawahah melancarkan serangan kepada mereka dengan syairnya, tetapi sepertinya Rasulullah belum merasa puas.

Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim seorang utusan kepada Ka’ab bin Malik. Lalu juga mengutus seorang utusan kepada Hassan bin Tsabit. Ketika utusan tersebut datang kepadanya, Hassan berkata; “Telah tiba saatnya engkau mengutus singa yang mengipas-ngipaskan ekornya, menjulurkan dan menggerak-gerakkan Iidahnya.

Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan membawa kebenaran, saya akan menyayat-nyayat hati kaum kafir Quraisyy dengan syair saya ini seperti sayatan kulit.” Tetapi Rasulullah memperingatkannya terlebih dahulu: “Hai Hassan, janganlah kamu tergesa-gesa, karena sesungguhnya Abu Bakar itu lebih tahu tentang nasab orang-orang Quraisyy. Sementara nasab Quraisyy itu sendiri ada pada diriku.”

Kemudian Hassan bin Tsabit pergi mengunjungi Abu Bakar Setelah itu, ia pun kembali menemui Rasulullah dan berkata; Ya Rasulullah, nasab engkau telah saya ketahui silsilahnya. Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, saya pasti akan mampu mencabut engkau dan kelompok mereka sebagaimana tercabutnya sebutir gandum dari adonannya.”

Aisyah berkata; “Lalu saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Jibril Alahis Salam senantiasa akan mendukungmu hai Hassan selama kamu menghinakan orang-orang kafir dengan syairmu untuk membela Allah dan Rasul-Nya.” Aisyah berkata; Hassan bin Tsabit melontarkan syair-syair hinaan kepada kaum Quraisyy dengan dahsyatnya.” Hassan bin Tsabit berkata; dalam syairnya; ‘Kau hina Muhammad, maka aku balas hinaanmu itu, # dan dengan itu maka aku raih pahala di sisi Allah. # Kau hina Muhammad, orang yang baik dan tulus, # utusan Allah yang tidak pernah ingkar janji. # Ayahku, nenekku, dan kehormatanku akan, aku persembahkan demi kehormatan Muhammad dan seranganmu. # Aku akan pacu kudaku yang tak terkejar olehmu menerjang musuh dan terus mendaki. # Pasukan berkuda kami melesat ke atas bukit, dengan menyanding anak panah yang siap diluncurkan. # Kuda-kuda kami terus berlari, dengan panji-panji yang ditata oleh kaum wanita.# Tantanganmu pasti kami hadapi, sampai kemenangan berada di tangan kami. # Jika tidak, maka tunggulah saat pertempuran # yang Allah akan berikan # kejayaan kepada orang yang dikehendaki-Nya. # Allah berfirman: “Telah Aku utus seorang hamba, # yang menyampaikan kebenaran tanpa tersembunyi.” # Allah berfirman: “Telah Aku siapkan bala bantuan, # yaitu pasukan Anshar yang merindukan musuh. # Setiap hari kami siap menghadapi cacian, # pertempuran, ataupun hinaan. # Hinaan, pujianmu dan pertolonganmu kepada Rasulullah, semua itu bagi beliau tiada artinya. # Jibril yang diutus oleh Allah untuk membantu kami, dialah Ruhul Qudus yang tak tertandingi.

(HR. Muslim)

Tugas Menghancurkan Dzil Khalashah

Pada masa Jahiliyah ada sebuah rumah yang diberi nama Dzul Khalshah, rumah itu biasa disebut dengan Al Ka’bah Al Yamaniyah dan Al Ka’bah As Syamiyah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Bisakah kamu menyenangkanku dengan menghancurkan Dzil Khalashah atau Al Ka’bah Al Yamaniyah dan Syamiyah? Kata Jabir; lalu aku berangkat dengan seratus lima puluh pasukan berkuda yang tangguh. Kami hancurkan dan kami bunuh orang-orang yang berada di sekitarnya. Kemudian aku kembali mengabarkan keberhasilannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah pun mendo’akan kepada kami dan para penunggang kuda yang tangguh.

HR. Muslim